".....If people were rain, I was drizzle and he was hurricane"

Minggu, 30 Oktober 2016

#SLICEOFLIFE

Secercah sinar matahari dengan nakal menyapu parasnya, jatuh tepat di matanya yang kecoklatan seraya ia mengernyit. Lagi - lagi aku menahan nafas, menyadari dia yang kini begitu 'berkilau' seakan sesosok peri tak kasat mata baru saja menaburkan serbuknya. Dia mengerjap. Sekali. Dua kali. Seketika hati dan seluruh isi perutku terasa terbalik, menimbulkan sensasi aneh yang membuatku meringis, menahan sudut - sudut bibirku agar tak tertarik melebar diantara kedua pipiku. Aku ketakutan, ketakutan yang menyenangkan. Ketakutan yang belakangan ini menjadi candu bagiku,
Aku selalu takjub dibuatnya, pada tiap sajak - sajak yang selalu mampu memercik lalu menggema di sekililing kepalaku hanya dengan kehadirannya. Sajak yang juga meredup kembali sebelum aku sempat menuliskannya bersama memudarnya sosok itu dari mataku. Ah ! Aku mengumpat pada waktu yang ingin sekali kubunuh, begitu berani bersaing denganku, dengan mudah merebut dia dariku. Tak dapatkah waktu bersahabat dan sejenak melambat ? Agar setidaknya aku mampu menuliskan sajakku tentang dia, tentang sepasang bola mata penuh kehangatan yang tersembunyi dibalik kelopaknya ketika dia tertawa, juga tentang aku yang diam - diam memberikan sedikit demi sedikit duniaku pada pemilik tawa itu, tawa yang mampu membuat dunia tertawa bersamanya.
Dan disinilah aku, duduk sendiri menatap langit yang kemerahan. Ku lukis dari darah waktu yang telah kubunuh, menghasilkan senja. Senja selalu mengingatkanku untuk pulang, kembali pada kenyataan, jauh dari kesejukan di balik mata indahnya. Kembali pada ruang sempit penuh harapan yang kian lama kian menyesakkan.

"Barangkali suatu saat nanti aku akan berkonspirasi dengan semesta, menghadirkanmu di ruang yang sama denganku. Berbagi harapan yang tak lagi mampu kupikul sendiri"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar