Akhir – akhir ini cuaca
pagi hari selalu muram. Mendung, hujan, berkabut. Tak jauh beda dengan Forks, tempat
tinggal Edward Cullen, vampir tampan dalam novel fiksi karya Stepheni Meyer.
Para vampir akan berkeliaran dalam cuaca seperti ini. Itu yang sering kali ku
katakan pada cucu – cucu Nenek Mimi ketika mereka mulai berkubang di kubangan
air hujan di taman berumput yang sebelumnya telah mereka gali. Dan mereka akan
segera melesat masuk ke dalam rumah meninggalkan kubangan itu semakin penuh oleh
lumpur dan air.
Namun sore hari menjadi waktu yang
tepat bagi matahari untuk memunculkan sedikit sinarnya yang seharian ditelan
oleh awan hitam. Warna orange cerah tampak di kaki langit, memantul pada
dinding – dinding dan pagar yang basah. Dan Forks pun sirna.
“ Sore Tuan Barley, apakah kali ini
lubangnya lebih dalam ?” candaku pada menantu nenek Mimi, dia seorang warga
negara Australia yang menikah dengan Bu Raisa, putri Nenek Mimi.
“ Oh hallo Darla, sore yang indah.
Kurasa kali ini aku harus mulai menimbunnya dengan semen.” Jawabnya seraya
menunjuk pada anaknya, Joan dan Joanne yang sedang membantu ayahnya mengangkut
tanah untuk menutup kubangan kesayangan mereka.
Aku tertawa lebar seraya meninggalkan
mereka dengan kesibukannya, memasuki pekarangan rumah tetangga sebelah rumahku
dan mengetuk pintu belakangnya. Seorang wanita setengah baya segera membuka
pintu yang langsung mengarah ke dapur, rambutnya yang kecoklatan dikuncir rapi
dan dia memakai celemek. Aku mengenalnya sebagai Bibi May.
“Kemarilah sayang, aku sedang membuat chocolate cookies kesukaanmu.” Kata Bibi
May dengan suaranya yang hangat seraya kembali mengaduk adonannya.
Dapur itu dipenuhi oleh sinar matahari
sore dari jendela – jendela kaca yang tinggi. Peralatan dari logam yang
berkilau tertata rapi di penjuru dapur. Aku membantu Bibi May menuangkan
chocochips ke dalam adonan yang di aduknya.
“Orang tuamu belum kembali Darla?”
tanya Bibi May seraya menuang adonan cookies bulat ke atas loyang.
“Belum. Bukankah Bibi tahu mereka tak
akan pulang sebelum petugas keamanan mengusir mereka dari kantornya.” Jawabku gontai.
Aku malas membicarakan orang – orang yang seumur hidupnya dihabiskan di atas
lantai mengkilat di dalam bangunan kaca pencakar langit.
Bibi May tersenyum masam dan
memandangku dengan mata hitamnya yang tajam. Aku tahu setelah ini dia akan
berkata “Kau harusnya bersyukur, itu berarti mereka menghabiskan waktunya demi
mencukupi semua kebutuhanmu.” lalu aku akan balik tersenyum kepadanya dan duduk
di halaman belakang rumah Bibi May yang lebih terasa “rumah” di bandingkan
dengan rumahku sendiri. Kalau saja bangunan bergaya Victorian berlantai dua itu
bisa disebut rumah, dengan hampir satu satunya penghuninya adalah aku.
Namun kali ini semua berbeda, Bibi May
tidak lagi mengulang kalimat itu. Kalimat yang sama di ucapkannya tiap kali aku
mulai jengkel dengan orang tuaku. Dia justru mengambil pitcher berisi cairan
coklat dan menuangkannya pada cangkir porselen. Aroma leci tercium ketika cangkir
itu di dorong ke arahku.
“Tea
Fruit Lychee.” Ucap Bibi May setelah aku meneguk teh leci yang menyegarkan
itu. “Resep baruku, Darla. Kau mau lagi ?”. Belum sempat aku menjawabnya,
cangkir di depanku sudah terisi penuh, bahkan kini di tambah dengan tiga buah
leci yang di masukkan ke dalamnya.
“Kenapa bukan kau Bibi May ?” Ucapku
tiba – tiba. Bibi May yang sedang mengeluarkan cookies dari oven mendadak
berbalik menghadapku. Wajahnya nampak bingung dengan pernyataanku yang tidak
jelas dan mendadak.
“Kenapa bukan kau yang menjadi orang
tuaku. Kenapa mereka tidak bisa memperlakukanku seperti layaknya orang tua pada
anaknya. Justru kau dan Paman Sam yang memberiku semua perlakuan yang
seharusnya ku terima dari mereka.” Ujarku menjelaskan. Aku tahu kini mataku
mulai memerah, karena Bibi May beranjak mendekat dan merengkuhku kedalam pelukannya.
Bel
rumah Bibi May berdenting seiring dengan mataku yang mulai membengkak. “Pamanmu
datang.” Ujar Bibi May seraya melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh.
Kuputar keran washtafel hingga air yang ku gunakan untuk membasuh muka berhenti mengalir.
Dengan harapan setidaknya mataku yang sembab akan sedikit berkurang. Suara
paman Sam terdengar hingga ke tempatku berdiri. Segera aku beranjak dari kamar
mandi dan menemui mereka.
Di ruang keluarga, Paman Sam tengah
melepas sepatunya dan tersenyum padaku. Senyum yang tak pernah kudapat dari
orang tuaku. Di ambang pintu seorang pria seusiaku berdiri, sebuah koper besar
tersandar di dekatnya.
“Hai.” Sapanya singkat. Aku tersenyum.
Lalu pria itu menarik kopernya menaiki tangga. Dia Toddy, anak Paman Sam dan
Bibi May. Tak bisa setiap hari aku bertemu dengannya, dia memilih melanjutkan
sekolahnya di luar kota sejak pertama kali kami lulus SMA. Toddy selalu
bersikap dingin, entah bagian mana pada diriku yang membuatnya anti padaku.
Aku menaiki tangga mengikutinya, dia
masuk ke sebuah ruangan di ujung lorong. Pintu ruangan itu dipoles dengan cat
hitam dan putih membentuk papan catur, sangat mencolok dibandingkan pintu –
pintu polos lainnya. Kudorong pintu itu hingga terbuka dan di dalam sana Toddy, dengan muka datarnya,
menatap gadis yang dengan lancang memasuki kamarnya.
“Hallo, aku mengganggumu ?” Tanyaku
canggung.
“Hampir.” Jawabnya singkat. Ku anggap
itu sebagai jawaban “tidak”. Aku pun duduk di pinggiran ranjangnya sambil
memperhatikan pria itu memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Langit di luar
sana hitam pekat, cahaya bulan yang menjadi satu – satunya sumber cahaya di
ruangan menimpa kulit sawo matangnya.
“Boleh kunyalakan lampunya ?” kataku
meminta ijin. Suasana gelap kamar ini mulai menggangguku.
“Tidak.” Sahutnya masih saja datar. Ku
turuti permintaannya, tanganku yang hampir menjangkau saklar lampu kutarik
kembali. Sunyi senyap. Dia tidak mencoba untuk membuka pembicaraan denganku.
Aku menarik nafasku dan menghembuskannya dengan keras hingga menimbulkan suara.
Toddy menoleh, mungkin dia merasa terganggu. Langsung ku hindari tatapan
matanya yang menghujam padaku.
“Aku mau jalan – jalan keluar. Kau mau
ikut atau kau mau ku kunci disini ?” Ujar Toddy mengagetkanku yang mulai mengantuk.
Tak ada pilihan lain, aku segera beranjak, takut kalau saja dia benar – benar
mengunciku di kamarnya yang gelap ini.
***
Setelah melewati gang – gang sempit,
Toddy duduk di bangku kayu di depan sebuah rumah makan cepat saji yang ramai
oleh orang dewasa dan anak – anak kecil. Ini yang dimaksudkannya “jalan –
jalan”, berjalan sekitar 100 meter menjauh dari kawasan perumahan, melewati
gang sempit dan gelap, lalu duduk disini mengawasi orang – orang melahap junk food mereka. Aku masih berdiri di depan
tong sampah dekat bangku itu, tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki muda
dengan kaus merah marun yang kini memperhatikan restoran itu seakan – akan dia
sedang menonton pertunjukan sirkus.
Mendadak Toddy berdiri dan mendekat ke
keramaian kemudian dia kembali sambil membawa ice cream dan permen lollipop.
Tanpa sepatah kata pun dia mengulurkan tangannya yang menggenggam lollipop
kepadaku dan serta merta pergi menyusuri gang gelap yang sebelumnya kami
lewati.
Bagaimana bisa dia hanya memberiku
lollipop caramel sedangkan dia mendapat ice cream coklat yang dingin itu.
Pantas jika aku tak pernah melihatnya menggandeng seorang gadis. Sambil membuka
bungkusan permen lollipopku, aku berjalan mengikutinya dari belakang. Toh
meskipun aku di sampingnya keadaan tidak akan berubah, dia tak akan mengajakku
bicara, seperti berjalan dengan tembok.
“Kenapa kau tidak pulang dan
membereskan rumahmu ?” Celotehnya ketika kami sampai di depan rumah Bibi May
dan melirik rumahku yang gelap tanpa penerangan. Aku lega ternyata dia ternyata
masih bisa berbicara.
“Oh, kau sudah selesai jalan – jalan
Darla. Menginaplah disini kalau kau mau.” Tiba – tiba Bibi May telah berdiri di
ambang pintu. Aku menunjukkan senyum kemenanganku pada Toddy yang mukanya
berubah masam seraya berjalan memasuki rumahnya.
Sesampainya di kamar yang ditunjuk
oleh Bibi May, tak jauh dari kamar Toddy, kurebahkan badanku di single bed yang
terasa begitu nyaman. Bisa kudengar diluar sana pintu ditutup dengan keras dan
setelah itu semuanya gelap. Ketika aku membuka mata, sinar matahari mengaburkan
pandanganku, menyilaukan. Kakiku sakit sekali, semalaman aku tertidur dengan
kaki menggantung ke bawah. Dengan sedikit tertatih, aku menuruni tangga,
terdengar suara sendok dan garpu yang beradu di bawah sana. Benar saja, di meja
makan dekat dapur, Bibi May dan Paman Ben tengah menikmati sarapan mereka.
“Pagi yang cerah, Darla” Ucap Paman
Ben sambil mengangkat garpu yang di ujungnya terdapat remah – remah telur mata
sapi. Aku tersenyum, Bibi May mengangkat gelas jusnya dan mempersilahkanku
duduk.
“Dimana Toddy ?” Tanyaku pada kedua
orang tua di depanku. Respon yang sama sekali tak ku harapkan terjadi, mereka
berdua mematung ketika pertanyaan itu meluncur keluar dari bibirku. “Dimana
Toddy ?” Ulangku, mungkin tadi mereka tak mendengar pertanyaanku. Mereka masih
saja diam, Bibi May lalu memandangku dengan wajah bertanya tanya, matanya
berkaca – kaca. Sungguh aku sangat bingung, apa yang salah dengan pertanyaanku
?
“Apa maksudmu Darla ?” Bibi May
menatapku tak percaya.
“Maaf, tapi aku hanya bertanya dimana
Toddy.” Jawabku polos.
“Ikut aku.” Ujar Bibi May seraya
menarik lenganku keluar dari rumah, jauh ke ujung jalan dan berbelok ke kiri,
dan kami memasuki sebuah gerbang hitam tinggi. Aku menoleh ke Paman Ben yang
berjalan di belakangku, meminta jawaban darinya namun dia malah memalingkan
mukanya dariku. Aku tahu kemana Bibi May membawaku setelah aku menyadari padang
rumput di sekelilingku dipenuhi oleh batu mengkilap yang ditancapkan ke tanah.
Kami berhenti di salah satu batu
mengkilap itu. Tatapan Bibi May menghujam mataku, dia berujar “Disini Toddy.”
Lalu dia menangis sesenggukan, seakan – akan tangis itu sudah begitu lama
ditahannya.
“Bagaimana kau bisa lupa ? Empat bulan
lalu pesawat yang ditumpangi Toddy gagal mendarat di bandara setelah hujan
lebat, dan dia salah satu dari 14 penumpang yang meninggal dunia.” Kata Paman
Ben menambahkan, Bibi May menganguk – angguk di pelukannya.
Aku masih diam, kujatuhkan lututku di
atas pusaranya yang berumput. Rumput – rumput tajam itu menggores lututku,
perih. “Tapi semalam aku jalan – jalan dengannya.” Gumamku lirih. “Semalam kau
pergi sendiri Darla, bahkan ketika kau pulang aku melihatmu di depan pagar
sendiri.” Terang Bibi May yang kini ikut duduk disampingku. Kepalaku pening
mendengar ucapan Bibi May.
“Paman Ben, kau semalam pulang
dengannya bukan ? dia menenteng sebuah koper besar.” Kataku panik. Paman Ben
yang kini kupandang justru balik memandangku dengan ekspresi muka sedih. Lama
tak ada jawaban dari mereka. Aku pun diam, berbagai macam perasaan berkecamuk
dalam pikiranku. Ini tak mungkin ! Bagaimana bisa ?
Lalu samar – samar aku mendengar suara Bibi May “Aku tahu Darla, tidak mudah kehilangan seseorang. Aku pun begitu. Tapi bagaimana pun, kau harus belajar merasa kehilangan.” Kata - katanya terngiang di kepalaku berulang – ulang. Orang – orang berpakaian hitam mendadak berkelebat cepat di depan mataku. Rumput hijau pemakaman lambat – lambat menghilang. Aku seperti terhisap oleh pusaran angin topan yang dahsyat. Orang – orang itu berdiri disini, di pemakaman ini, beberapa di antaranya menangis. Aku mengenal mereka, Paman Ben dan Bibi May, Tuan dan Nyonya Barley yang sedang menenangkan kedua anaknya yang menangis, serta kedua orang tuaku.
Lalu samar – samar aku mendengar suara Bibi May “Aku tahu Darla, tidak mudah kehilangan seseorang. Aku pun begitu. Tapi bagaimana pun, kau harus belajar merasa kehilangan.” Kata - katanya terngiang di kepalaku berulang – ulang. Orang – orang berpakaian hitam mendadak berkelebat cepat di depan mataku. Rumput hijau pemakaman lambat – lambat menghilang. Aku seperti terhisap oleh pusaran angin topan yang dahsyat. Orang – orang itu berdiri disini, di pemakaman ini, beberapa di antaranya menangis. Aku mengenal mereka, Paman Ben dan Bibi May, Tuan dan Nyonya Barley yang sedang menenangkan kedua anaknya yang menangis, serta kedua orang tuaku.
Sejenak aku memalingkan mukaku dari
orang – orang yang sedang mengitari pusara Toddy yang masih basah. Aku melihat
diriku sendiri berlari di aspal jalanan dengan gaun hitamku yang ku angkat
hingga sebatas lutut menjauhi tempat suram itu dan memasuki rumah.
Ku buka mataku dan aku masih bersimpuh
di rumput yang tumbuh di pusara Toddy. Rasa sakit yang amat sangat mendadak
menusuk hatiku dan menjalar ke mataku yang mulai memanas. Bibi May dan Paman
Ben berbalik dan melangkah keluar pemakaman, meninggalkanku disini bersama
tubuh Toddy yang terkubur jauh di bawah sana.
***
Beberapa bulan setelah kejadian di pemakaman,
aku jarang sekali mengunjungi rumah Paman Ben dan Bibi May, bahkan hampir tidak
pernah. Kini di pintu kulkasku ditempel selebaran dari berbagai restoran yang
menyediakan layanan pesan antar, aku memang lebih memilih memesan makanan
daripada harus pergi ke rumah Bibi May untuk sarapan dan makan siang disana
seperti kebiasaanku sebelumnya. Orang tuaku masih sama, membiarkanku sarapan,
makan siang, bahkan makan malam sendiri. Parahnya akhir – akhir ini mereka mulai
sering berteriak satu sama lain, meluncurkan sumpah serapah dari mulut mereka,
dan membanting pintu dengan keras. Jika sudah begitu, aku akan keluar dari
kamarku dan duduk di depan minimarket 24 jam dengan tangan menggenggam kaleng
minuman soda, serta masih mengunakan piyama. Lalu ketika jam di dalam
minimarket menunjukkan pukul 3 pagi aku akan berdiri dan pergi meninggalkan
minimarket itu, kembali ke rumahku yang untungnya tidak dikunci. Kebiasaan
baruku itu menimbulkan efek yang buruk, kini kantung mataku yang sebelumnya
baik – baik saja berubah mengitam mengerikan, aku pun jarang sarapan pagi,
karena ketika aku bangun, jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
Terkadang aku mendapati diriku seperti
bukan diriku, ada yang berubah dari ku, entah apa. Aku mulai sering mendapat
mimpi – mimpi buruk tentang kematian Toddy. Hingga suatu malam yang cerah,
angin musim panas yang kering berhembus masuk melalui jendela kamarku yang ku
buka lebar. Tubuhku yang lelah membuat mataku dengan mudahnya terpejam ketika punggungku
menyentuh ranjang. Lagi – lagi aku bermimpi buruk, namun kali ini bukan tentang
Toddy atau siapa pun. Di ujung tangga rumahku yang lebar aku berdiri mematung.
Gelap sekali disini, lilin – lilin sebagai penerangan yang menempel di dinding
telah habis, menyisakan mangkuk kecil dari tembaga berukir bunga sebagai tempat
lilin itu berdiri.
Aku bisa mendengar suara televisi yang
sedang menyiarkan berita malam walaupun samar – samar, lalu suara ibuku yang
berteriak menyumpahi ayahku. Segera aku berlari menyusuri tangga tanpa suara.
Di sana, di ruang keluarga, diterangi oleh cahaya terang televisi kedua orang
tuaku berdiri saling menyalahkan. Belum sempat aku menghembuskan nafasku yang
tadinya kutahan, ditengah percekcokan yang kian memanas ibuku melepas sepatu stiletto yang dipakainya dan
menghantamkan ujung hak tingginya berkali – kali ke kepala ayahku yang mulai
melawan dengan menjambak rambut pendeknya. Pemandangan mengerikan itu di akhiri
dengan ayahku yang tersungkur di lantai dengan dahi dan pelipis yang berdarah,
tak bergerak. Tubuhku menegang di balik bayang – bayang dinding melihat kedua
orang tuaku mencoba saling membunuh, ku cengkeram dinding pembatas itu hingga
kuku panjangku menancap dan menimbulkan guratan.
Mendadak suasana hening, hingga aku
kembali menahan nafas. Aku takut ibuku mendengar suara nafasku. Dia seperti
terhipnotis, diam di sana dengan tangan menggenggam sepatu yang digunakan untuk
membunuh ayahku, sementara gadis di televisi masih saja membawakan acara berita
malamnya.
“Arrrhhhhhhhhhh” Ibuku melemparkan
sepatu yang dipegangnya ke arah lelaki yang tadi dibunuhnya, lalu melepas
sepatu lain dari kakinya dan melemparnya ke layar televisi hingga layar
datarnya retak dan wanita pembawa berita itu menghilang. Dia berlari ke dapur
sambil menjambak – jambak rambutnya sendiri. Dari sini aku bisa melihatnya
dengan jelas mencari – cari sesuatu di dalam laci. Setelah beberapa menit
mencari dan tak menemukan yang dicarinya, akhirnya ia mengeluarkan sebuah bor
listrik dari sana. Di tatapnya bor itu lama sekali, kemudian ibuku berjalan
menjauh dari pandanganku. Aku tak berani mendekatinya untuk melihat yang dia
lakukan. Terdengar suara bor listrik dihidupkan dan semuanya kembali hening,
bor itu mati. Kaki ku yang gemetar kulangkahkan ke tempat suara itu menghilang.
Aku menutup mataku rapat – rapat dan ketika aku membuka mataku kembali, kamarku
telah terang oleh cahaya matahari. Pintu kamarku di gedor dengan keras. Belum
sempat aku membukanya, Bibi May menerobos masuk.
“Kau tidak apa – apa sayang ? Oh,
maafkan aku.” Suaranya serak dan panik. Aku bisa merasakan tubuhnya yang
gemetar ketika dia memelukku yang masih duduk di ranjang – tak mengerti.
“Ada apa Bibi May ?” Sahutku sambil melepaskan
diri dari pelukannya. Setelah aku mendongak, baru aku menyadari tangis yang
membasahi matanya yang memerah. Ku pastikan Bibi May tak membawa kabar baik.
Bibi May merengkuh pundakku seraya
membawaku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Rumahku penuh oleh orang –
orang berseragam kepolisian yang beberapa tengah menanyai Paman Ben. Tuan
Barley juga disini, dia tiba – tiba memelukku setelah menyadari aku ada bersama
Bibi May.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan berakhir di ruang keluarga. Televisi itu – aku segera berjalan cepat mendekati sofa, di bawah sana ayahku tergeletak tak berdaya. Aku tak mampu berpikir jernih, aku segera berlari mendekati dapur dan hatiku serasa di hantam ratusan ton lempengan besi berkarat ketika aku melihat sesuatu yang terbujur kaku disana. Aku merosot hingga terduduk di lantai, kaki ku tak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan berakhir di ruang keluarga. Televisi itu – aku segera berjalan cepat mendekati sofa, di bawah sana ayahku tergeletak tak berdaya. Aku tak mampu berpikir jernih, aku segera berlari mendekati dapur dan hatiku serasa di hantam ratusan ton lempengan besi berkarat ketika aku melihat sesuatu yang terbujur kaku disana. Aku merosot hingga terduduk di lantai, kaki ku tak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.
Ibuku terbujur di dekat pantry, bor
ditangannya mengarah ke kepalanya yang kini mengeluarkan darah dari lubang yang
dibuat oleh bor itu. Seseorang menutup mataku dan membopongku menjauh dari
ruangan. Semua itu bukan mimpi, rintihku dalam hati. Aku di tidurkan di sebuah
sofa bergaris dan seseorang yang membopongku, yang ternyata Tuan Barley keluar
dan menutup pintu dibelakangnya. Langit – langit ruangan itu bermotif catur,
membuatku pusing jika terus berlama – lama melihatnya. Aku menghela nafas
panjang, hatiku terasa tercabik – cabik dengan semua peristiwa ini.
Tenggorokanku kering setelah beberapa jam kemudian tak henti menangis.
Aku berdiri dan memandang langit
mendung di luar sana melalui jendela berbingkai kayu di depan ranjang, jendela
yang sama ketika malam itu cahaya perak rembulan menembus melalui kacanya yang
bening. Selembar kertas yang menyembul di pintu lemari pakaian
menarik perhatianku dari awan – awan hitam yang mulai menyelimuti langit.
Kutarik perlahan kertas itu agar tidak terkoyak, dan dari sudut mataku yang
bengkak aku dapat melihat kertas yang berisi potret seorang gadis muda berdiri mematung
di antara keheningan langit senja. Bahkan meskipun foto itu diambil dari
samping, aku tak bisa membohongi otakku untuk tidak mengingat suasana sore
dingin di foto yang ku genggam. Aku sangat mengenalnya, celana capri itu, t-shirt
oversized biru tua, dan pagar kayu rendah di dalam potret itu juga yang membuat
suara dentuman jantungku terdengar menggema di kamar Toddy yang sunyi.
Dan betapa hatiku mencelos ketika
ujung – ujung jariku merasakan timbulan huruf – huruf yang terukir di balik
foto itu. Ditulis dengan tinta hitam tebal dengan huruf tegak bersambung yang
rapi.
“I
may seem to hate you. But really I’m so in love with you, Darl”
Hatiku kembali nyeri saat aku mulai
mengerti maksud dari kata – kata itu. Perlahan kubuka pintu lemari kayu hitam
di depanku setelah beberapa saat ku pandangi dari atas ke bawah dengan
penasaran. Debu – debu berhamburan ketika gagang tebal lemari itu ku hentakkan
hingga kedua pintunya terbuka lebar. Tak kuasa menahan rasa takjub yang
menyerang tiba – tiba, ku paksakan mataku yang pedih karena debu agar tak
berkedip. Tepat dihadapanku, puluhan bahkan mungkin ratusan lembar foto dengan
berbagai ukuran di tempel memenuhi tiap sisi bagian dalam lemari. Kutelusuri
satu persatu rentetan foto itu dari sudut ke sudut, sementara kepalaku masih
terus dijejali pertanyaan – pertanyaan tak menentu.
Mendadak aku dikejutkan lagi dengan
salah satu foto yang berada tepat di tengah – tengah dari sekian banyak foto.
Foto itu memang masih fotoku, berkali – kali aku melihatnya hingga melepas dari
tempatnya ditempel, memastikan mataku masih bekerja dengan baik. Foto itu diambil
dari samping, aku berdiri melipat tangan di dada di sebelah bangku kayu dekat
restoran cepat saji. Ya, malam itu ! Tapi ini tidak mungkin, Toddy sudah
meninggal, dia tidak bisa melakukan ini. Semua ini semakin menakutkan, ku
lempar foto itu jauh – jauh dan terjatuh di sudut ruangan kamar.
Ku gerakkan kakiku yang kaku secepat
mungkin keluar dari kamar Toddy. Rumah ini masih sepi, Bibi May dan Paman Ben
belum kembali. Dari kaca jendela ruang depan, aku melihat banyak mobil polisi
dan sebuah ambulans di depan rumahku. Lalu dua orang yang keluar dari pagar
sambil menggotong kantung mayat berwarna kuning dan memasukkannya ke dalam
mobil ambulans. Dua orang muncul lagi membawa satu kantung kuning yang sama.
Aku berlari keluar dengan kencang,
meninggalkan pintu rumah Bibi may terbuka lebar. Dengan nafas putus – putus ku
buka dua kantung mayat yang telah dimasukkan ke dalam ambulans dengan liar.
Orang – orang yang tadi berusaha mencegahku seketika bergeming ketika mendengar
aku berteriak histeris. Ku tatap bergantian kedua mayat orang tuaku yang pucat,
ayahku dengan kepala bocor dibunuh oleh ibuku, dan ibuku sendiri yang bunuh
diri dengan membuat lubang di kepalanya dengan bor.
Langit berubah begitu cerah senja ini,
kenapa sepertinya mereka bahagia melihatku hancur seperti ini. Orang – orang di
sekitarku ku tatap dengan mata nyalang. Bibi May berusaha mendekatiku, namun
kudorong dia menjauh hingga tersungkur di jalanan beraspal. Aku ketakutan,
seharusnya aku tidak melakukan itu.
Kugigit bibir bawahku hingga berdarah.
Paman Ben menjulurkan tangannya untuk menjangkauku, tapi aku justru berlari
menjauh. Ku kunci rumah Bibi May dari dalam, aku meringkuk ketakutan di balik
pintu.
Aku tidak bisa merasakan apa – apa
lagi kecuali rasa sakit hatiku. Darah yang menetes dari bibirku tak lagi ku
pedulikan. Perlahan namun pasti ku potong selang tabung gas di dapur. Bau gas
yang menyengat menyiksa sistem pernafasanku, sesak. Tak kuhiraukan gedoran
keras di pintu depan dan rintihan Bibi May yang menyuruhku membuka kunci pintu. Api segera menyulut segala
penjuru ruangan sejenak setelah terdengar ledakan dari tabung gas. Aku terkapar
di lantai berlumuran darah, kulihat Bibi May, Paman Ben, Tuan Barley, Joan dan
Joanne dari balik pintu kaca di dapur. Bibi May pingsan dipelukan Paman Ben
yang tampak linglung. Aku tersenyum dan melambai pada mereka. “Selamat
tinggal.” Ucapku lirih, meskipun aku tahu mereka tak mungkin mendengarnya Bisa
kurasakan rasa panas dan perih tak terkira yang membakar kulitku. Terakhir aku
bisa mencium bau daging terpanggang dan bau amis darah sebelum akhirnya aku
benar – benar tak bisa merasakan apa – apa lagi. Semua rasa sakit itu hilang
seiring dengan tubuhku yang hancur di lalap api. Lihat, aku bertemu dengan
Toddy dan kedua orang tuaku. Dan akhirnya aku memiliki sayap.

