".....If people were rain, I was drizzle and he was hurricane"

Rabu, 25 Desember 2013

Efek Domino

Akhir – akhir ini cuaca pagi hari selalu muram. Mendung, hujan, berkabut. Tak jauh beda dengan Forks, tempat tinggal Edward Cullen, vampir tampan dalam novel fiksi karya Stepheni Meyer. Para vampir akan berkeliaran dalam cuaca seperti ini. Itu yang sering kali ku katakan pada cucu – cucu Nenek Mimi ketika mereka mulai berkubang di kubangan air hujan di taman berumput yang sebelumnya telah mereka gali. Dan mereka akan segera melesat masuk ke dalam rumah meninggalkan kubangan itu semakin penuh oleh lumpur dan air.
Namun sore hari menjadi waktu yang tepat bagi matahari untuk memunculkan sedikit sinarnya yang seharian ditelan oleh awan hitam. Warna orange cerah tampak di kaki langit, memantul pada dinding – dinding dan pagar yang basah. Dan Forks pun sirna.
“ Sore Tuan Barley, apakah kali ini lubangnya lebih dalam ?” candaku pada menantu nenek Mimi, dia seorang warga negara Australia yang menikah dengan Bu Raisa, putri Nenek Mimi.
“ Oh hallo Darla, sore yang indah. Kurasa kali ini aku harus mulai menimbunnya dengan semen.” Jawabnya seraya menunjuk pada anaknya, Joan dan Joanne yang sedang membantu ayahnya mengangkut tanah untuk menutup kubangan kesayangan mereka.
Aku tertawa lebar seraya meninggalkan mereka dengan kesibukannya, memasuki pekarangan rumah tetangga sebelah rumahku dan mengetuk pintu belakangnya. Seorang wanita setengah baya segera membuka pintu yang langsung mengarah ke dapur, rambutnya yang kecoklatan dikuncir rapi dan dia memakai celemek. Aku mengenalnya sebagai Bibi May.
“Kemarilah sayang, aku sedang membuat chocolate cookies kesukaanmu.” Kata Bibi May dengan suaranya yang hangat seraya kembali mengaduk adonannya.
Dapur itu dipenuhi oleh sinar matahari sore dari jendela – jendela kaca yang tinggi. Peralatan dari logam yang berkilau tertata rapi di penjuru dapur. Aku membantu Bibi May menuangkan chocochips ke dalam adonan yang di aduknya.
“Orang tuamu belum kembali Darla?” tanya Bibi May seraya menuang adonan cookies bulat ke atas loyang.
“Belum. Bukankah Bibi tahu mereka tak akan pulang sebelum petugas keamanan mengusir mereka dari kantornya.” Jawabku gontai. Aku malas membicarakan orang – orang yang seumur hidupnya dihabiskan di atas lantai mengkilat di dalam bangunan kaca pencakar langit.
Bibi May tersenyum masam dan memandangku dengan mata hitamnya yang tajam. Aku tahu setelah ini dia akan berkata “Kau harusnya bersyukur, itu berarti mereka menghabiskan waktunya demi mencukupi semua kebutuhanmu.” lalu aku akan balik tersenyum kepadanya dan duduk di halaman belakang rumah Bibi May yang lebih terasa “rumah” di bandingkan dengan rumahku sendiri. Kalau saja bangunan bergaya Victorian berlantai dua itu bisa disebut rumah, dengan hampir satu satunya penghuninya adalah aku.
Namun kali ini semua berbeda, Bibi May tidak lagi mengulang kalimat itu. Kalimat yang sama di ucapkannya tiap kali aku mulai jengkel dengan orang tuaku. Dia justru mengambil pitcher berisi cairan coklat dan menuangkannya pada cangkir porselen. Aroma leci tercium ketika cangkir itu di dorong ke arahku.
Tea Fruit Lychee.” Ucap Bibi May setelah aku meneguk teh leci yang menyegarkan itu. “Resep baruku, Darla. Kau mau lagi ?”. Belum sempat aku menjawabnya, cangkir di depanku sudah terisi penuh, bahkan kini di tambah dengan tiga buah leci yang di masukkan ke dalamnya.
“Kenapa bukan kau Bibi May ?” Ucapku tiba – tiba. Bibi May yang sedang mengeluarkan cookies dari oven mendadak berbalik menghadapku. Wajahnya nampak bingung dengan pernyataanku yang tidak jelas dan mendadak.
“Kenapa bukan kau yang menjadi orang tuaku. Kenapa mereka tidak bisa memperlakukanku seperti layaknya orang tua pada anaknya. Justru kau dan Paman Sam yang memberiku semua perlakuan yang seharusnya ku terima dari mereka.” Ujarku menjelaskan. Aku tahu kini mataku mulai memerah, karena Bibi May beranjak mendekat dan merengkuhku kedalam pelukannya.
Bel rumah Bibi May berdenting seiring dengan mataku yang mulai membengkak. “Pamanmu datang.” Ujar Bibi May seraya melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh.
Kuputar keran washtafel hingga air yang ku gunakan untuk membasuh muka berhenti mengalir. Dengan harapan setidaknya mataku yang sembab akan sedikit berkurang. Suara paman Sam terdengar hingga ke tempatku berdiri. Segera aku beranjak dari kamar mandi dan menemui mereka.
Di ruang keluarga, Paman Sam tengah melepas sepatunya dan tersenyum padaku. Senyum yang tak pernah kudapat dari orang tuaku. Di ambang pintu seorang pria seusiaku berdiri, sebuah koper besar tersandar di dekatnya.
“Hai.” Sapanya singkat. Aku tersenyum. Lalu pria itu menarik kopernya menaiki tangga. Dia Toddy, anak Paman Sam dan Bibi May. Tak bisa setiap hari aku bertemu dengannya, dia memilih melanjutkan sekolahnya di luar kota sejak pertama kali kami lulus SMA. Toddy selalu bersikap dingin, entah bagian mana pada diriku yang membuatnya anti padaku.
Aku menaiki tangga mengikutinya, dia masuk ke sebuah ruangan di ujung lorong. Pintu ruangan itu dipoles dengan cat hitam dan putih membentuk papan catur, sangat mencolok dibandingkan pintu – pintu polos lainnya. Kudorong pintu itu hingga terbuka dan  di dalam sana Toddy, dengan muka datarnya, menatap gadis yang dengan lancang memasuki kamarnya.
“Hallo, aku mengganggumu ?” Tanyaku canggung.
“Hampir.” Jawabnya singkat. Ku anggap itu sebagai jawaban “tidak”. Aku pun duduk di pinggiran ranjangnya sambil memperhatikan pria itu memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Langit di luar sana hitam pekat, cahaya bulan yang menjadi satu – satunya sumber cahaya di ruangan menimpa kulit sawo matangnya.
“Boleh kunyalakan lampunya ?” kataku meminta ijin. Suasana gelap kamar ini mulai menggangguku.
“Tidak.” Sahutnya masih saja datar. Ku turuti permintaannya, tanganku yang hampir menjangkau saklar lampu kutarik kembali. Sunyi senyap. Dia tidak mencoba untuk membuka pembicaraan denganku. Aku menarik nafasku dan menghembuskannya dengan keras hingga menimbulkan suara. Toddy menoleh, mungkin dia merasa terganggu. Langsung ku hindari tatapan matanya yang menghujam padaku.
“Aku mau jalan – jalan keluar. Kau mau ikut atau kau mau ku kunci disini ?” Ujar Toddy mengagetkanku yang mulai mengantuk. Tak ada pilihan lain, aku segera beranjak, takut kalau saja dia benar – benar mengunciku di kamarnya yang gelap ini.
***
Setelah melewati gang – gang sempit, Toddy duduk di bangku kayu di depan sebuah rumah makan cepat saji yang ramai oleh orang dewasa dan anak – anak kecil. Ini yang dimaksudkannya “jalan – jalan”, berjalan sekitar 100 meter menjauh dari kawasan perumahan, melewati gang sempit dan gelap, lalu duduk disini mengawasi orang – orang melahap junk food mereka. Aku masih berdiri di depan tong sampah dekat bangku itu, tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki muda dengan kaus merah marun yang kini memperhatikan restoran itu seakan – akan dia sedang menonton pertunjukan sirkus.
Mendadak Toddy berdiri dan mendekat ke keramaian kemudian dia kembali sambil membawa ice cream dan permen lollipop. Tanpa sepatah kata pun dia mengulurkan tangannya yang menggenggam lollipop kepadaku dan serta merta pergi menyusuri gang gelap yang sebelumnya kami lewati.
Bagaimana bisa dia hanya memberiku lollipop caramel sedangkan dia mendapat ice cream coklat yang dingin itu. Pantas jika aku tak pernah melihatnya menggandeng seorang gadis. Sambil membuka bungkusan permen lollipopku, aku berjalan mengikutinya dari belakang. Toh meskipun aku di sampingnya keadaan tidak akan berubah, dia tak akan mengajakku bicara, seperti berjalan dengan tembok.
“Kenapa kau tidak pulang dan membereskan rumahmu ?” Celotehnya ketika kami sampai di depan rumah Bibi May dan melirik rumahku yang gelap tanpa penerangan. Aku lega ternyata dia ternyata masih bisa berbicara.
“Oh, kau sudah selesai jalan – jalan Darla. Menginaplah disini kalau kau mau.” Tiba – tiba Bibi May telah berdiri di ambang pintu. Aku menunjukkan senyum kemenanganku pada Toddy yang mukanya berubah masam seraya berjalan memasuki rumahnya.
Sesampainya di kamar yang ditunjuk oleh Bibi May, tak jauh dari kamar Toddy, kurebahkan badanku di single bed yang terasa begitu nyaman. Bisa kudengar diluar sana pintu ditutup dengan keras dan setelah itu semuanya gelap. Ketika aku membuka mata, sinar matahari mengaburkan pandanganku, menyilaukan. Kakiku sakit sekali, semalaman aku tertidur dengan kaki menggantung ke bawah. Dengan sedikit tertatih, aku menuruni tangga, terdengar suara sendok dan garpu yang beradu di bawah sana. Benar saja, di meja makan dekat dapur, Bibi May dan Paman Ben tengah menikmati sarapan mereka.
“Pagi yang cerah, Darla” Ucap Paman Ben sambil mengangkat garpu yang di ujungnya terdapat remah – remah telur mata sapi. Aku tersenyum, Bibi May mengangkat gelas jusnya dan mempersilahkanku duduk.
“Dimana Toddy ?” Tanyaku pada kedua orang tua di depanku. Respon yang sama sekali tak ku harapkan terjadi, mereka berdua mematung ketika pertanyaan itu meluncur keluar dari bibirku. “Dimana Toddy ?” Ulangku, mungkin tadi mereka tak mendengar pertanyaanku. Mereka masih saja diam, Bibi May lalu memandangku dengan wajah bertanya tanya, matanya berkaca – kaca. Sungguh aku sangat bingung, apa yang salah dengan pertanyaanku ?
“Apa maksudmu Darla ?” Bibi May menatapku tak percaya.
“Maaf, tapi aku hanya bertanya dimana Toddy.” Jawabku polos.
“Ikut aku.” Ujar Bibi May seraya menarik lenganku keluar dari rumah, jauh ke ujung jalan dan berbelok ke kiri, dan kami memasuki sebuah gerbang hitam tinggi. Aku menoleh ke Paman Ben yang berjalan di belakangku, meminta jawaban darinya namun dia malah memalingkan mukanya dariku. Aku tahu kemana Bibi May membawaku setelah aku menyadari padang rumput di sekelilingku dipenuhi oleh batu mengkilap yang ditancapkan ke tanah.
Kami berhenti di salah satu batu mengkilap itu. Tatapan Bibi May menghujam mataku, dia berujar “Disini Toddy.” Lalu dia menangis sesenggukan, seakan – akan tangis itu sudah begitu lama ditahannya.
“Bagaimana kau bisa lupa ? Empat bulan lalu pesawat yang ditumpangi Toddy gagal mendarat di bandara setelah hujan lebat, dan dia salah satu dari 14 penumpang yang meninggal dunia.” Kata Paman Ben menambahkan, Bibi May menganguk – angguk di pelukannya.
Aku masih diam, kujatuhkan lututku di atas pusaranya yang berumput. Rumput – rumput tajam itu menggores lututku, perih. “Tapi semalam aku jalan – jalan dengannya.” Gumamku lirih. “Semalam kau pergi sendiri Darla, bahkan ketika kau pulang aku melihatmu di depan pagar sendiri.” Terang Bibi May yang kini ikut duduk disampingku. Kepalaku pening mendengar ucapan Bibi May.
“Paman Ben, kau semalam pulang dengannya bukan ? dia menenteng sebuah koper besar.” Kataku panik. Paman Ben yang kini kupandang justru balik memandangku dengan ekspresi muka sedih. Lama tak ada jawaban dari mereka. Aku pun diam, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam pikiranku. Ini tak mungkin ! Bagaimana bisa ?
Lalu samar – samar aku mendengar suara Bibi May “Aku tahu Darla, tidak mudah kehilangan seseorang. Aku pun begitu. Tapi bagaimana pun, kau harus belajar merasa kehilangan.” Kata - katanya terngiang di kepalaku berulang – ulang. Orang – orang berpakaian hitam mendadak berkelebat cepat di depan mataku. Rumput hijau pemakaman lambat – lambat menghilang. Aku seperti terhisap oleh pusaran angin topan yang dahsyat. Orang – orang itu berdiri disini, di pemakaman ini, beberapa di antaranya menangis. Aku mengenal mereka, Paman Ben dan Bibi May, Tuan dan Nyonya Barley yang sedang menenangkan kedua anaknya yang menangis, serta kedua orang tuaku.
Sejenak aku memalingkan mukaku dari orang – orang yang sedang mengitari pusara Toddy yang masih basah. Aku melihat diriku sendiri berlari di aspal jalanan dengan gaun hitamku yang ku angkat hingga sebatas lutut menjauhi tempat suram itu dan memasuki rumah.
Ku buka mataku dan aku masih bersimpuh di rumput yang tumbuh di pusara Toddy. Rasa sakit yang amat sangat mendadak menusuk hatiku dan menjalar ke mataku yang mulai memanas. Bibi May dan Paman Ben berbalik dan melangkah keluar pemakaman, meninggalkanku disini bersama tubuh Toddy yang terkubur jauh di bawah sana.
***
Beberapa bulan setelah kejadian di pemakaman, aku jarang sekali mengunjungi rumah Paman Ben dan Bibi May, bahkan hampir tidak pernah. Kini di pintu kulkasku ditempel selebaran dari berbagai restoran yang menyediakan layanan pesan antar, aku memang lebih memilih memesan makanan daripada harus pergi ke rumah Bibi May untuk sarapan dan makan siang disana seperti kebiasaanku sebelumnya. Orang tuaku masih sama, membiarkanku sarapan, makan siang, bahkan makan malam sendiri. Parahnya akhir – akhir ini mereka mulai sering berteriak satu sama lain, meluncurkan sumpah serapah dari mulut mereka, dan membanting pintu dengan keras. Jika sudah begitu, aku akan keluar dari kamarku dan duduk di depan minimarket 24 jam dengan tangan menggenggam kaleng minuman soda, serta masih mengunakan piyama. Lalu ketika jam di dalam minimarket menunjukkan pukul 3 pagi aku akan berdiri dan pergi meninggalkan minimarket itu, kembali ke rumahku yang untungnya tidak dikunci. Kebiasaan baruku itu menimbulkan efek yang buruk, kini kantung mataku yang sebelumnya baik – baik saja berubah mengitam mengerikan, aku pun jarang sarapan pagi, karena ketika aku bangun, jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
Terkadang aku mendapati diriku seperti bukan diriku, ada yang berubah dari ku, entah apa. Aku mulai sering mendapat mimpi – mimpi buruk tentang kematian Toddy. Hingga suatu malam yang cerah, angin musim panas yang kering berhembus masuk melalui jendela kamarku yang ku buka lebar. Tubuhku yang lelah membuat mataku dengan mudahnya terpejam ketika punggungku menyentuh ranjang. Lagi – lagi aku bermimpi buruk, namun kali ini bukan tentang Toddy atau siapa pun. Di ujung tangga rumahku yang lebar aku berdiri mematung. Gelap sekali disini, lilin – lilin sebagai penerangan yang menempel di dinding telah habis, menyisakan mangkuk kecil dari tembaga berukir bunga sebagai tempat lilin itu berdiri.
Aku bisa mendengar suara televisi yang sedang menyiarkan berita malam walaupun samar – samar, lalu suara ibuku yang berteriak menyumpahi ayahku. Segera aku berlari menyusuri tangga tanpa suara. Di sana, di ruang keluarga, diterangi oleh cahaya terang televisi kedua orang tuaku berdiri saling menyalahkan. Belum sempat aku menghembuskan nafasku yang tadinya kutahan, ditengah percekcokan yang kian memanas ibuku melepas sepatu stiletto yang dipakainya dan menghantamkan ujung hak tingginya berkali – kali ke kepala ayahku yang mulai melawan dengan menjambak rambut pendeknya. Pemandangan mengerikan itu di akhiri dengan ayahku yang tersungkur di lantai dengan dahi dan pelipis yang berdarah, tak bergerak. Tubuhku menegang di balik bayang – bayang dinding melihat kedua orang tuaku mencoba saling membunuh, ku cengkeram dinding pembatas itu hingga kuku panjangku menancap dan menimbulkan guratan.
Mendadak suasana hening, hingga aku kembali menahan nafas. Aku takut ibuku mendengar suara nafasku. Dia seperti terhipnotis, diam di sana dengan tangan menggenggam sepatu yang digunakan untuk membunuh ayahku, sementara gadis di televisi masih saja membawakan acara berita malamnya.
“Arrrhhhhhhhhhh” Ibuku melemparkan sepatu yang dipegangnya ke arah lelaki yang tadi dibunuhnya, lalu melepas sepatu lain dari kakinya dan melemparnya ke layar televisi hingga layar datarnya retak dan wanita pembawa berita itu menghilang. Dia berlari ke dapur sambil menjambak – jambak rambutnya sendiri. Dari sini aku bisa melihatnya dengan jelas mencari – cari sesuatu di dalam laci. Setelah beberapa menit mencari dan tak menemukan yang dicarinya, akhirnya ia mengeluarkan sebuah bor listrik dari sana. Di tatapnya bor itu lama sekali, kemudian ibuku berjalan menjauh dari pandanganku. Aku tak berani mendekatinya untuk melihat yang dia lakukan. Terdengar suara bor listrik dihidupkan dan semuanya kembali hening, bor itu mati. Kaki ku yang gemetar kulangkahkan ke tempat suara itu menghilang. Aku menutup mataku rapat – rapat dan ketika aku membuka mataku kembali, kamarku telah terang oleh cahaya matahari. Pintu kamarku di gedor dengan keras. Belum sempat aku membukanya, Bibi May menerobos masuk.
“Kau tidak apa – apa sayang ? Oh, maafkan aku.” Suaranya serak dan panik. Aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar ketika dia memelukku yang masih duduk di ranjang – tak mengerti.
“Ada apa Bibi May ?” Sahutku sambil melepaskan diri dari pelukannya. Setelah aku mendongak, baru aku menyadari tangis yang membasahi matanya yang memerah. Ku pastikan Bibi May tak membawa kabar baik.
Bibi May merengkuh pundakku seraya membawaku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Rumahku penuh oleh orang – orang berseragam kepolisian yang beberapa tengah menanyai Paman Ben. Tuan Barley juga disini, dia tiba – tiba memelukku setelah menyadari aku ada bersama Bibi May.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan berakhir di ruang keluarga. Televisi itu – aku segera berjalan cepat mendekati sofa, di bawah sana ayahku tergeletak tak berdaya. Aku tak mampu berpikir jernih, aku segera berlari mendekati dapur dan hatiku serasa di hantam ratusan ton lempengan besi berkarat ketika aku melihat sesuatu yang terbujur kaku disana. Aku merosot hingga terduduk di lantai, kaki ku tak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.
Ibuku terbujur di dekat pantry, bor ditangannya mengarah ke kepalanya yang kini mengeluarkan darah dari lubang yang dibuat oleh bor itu. Seseorang menutup mataku dan membopongku menjauh dari ruangan. Semua itu bukan mimpi, rintihku dalam hati. Aku di tidurkan di sebuah sofa bergaris dan seseorang yang membopongku, yang ternyata Tuan Barley keluar dan menutup pintu dibelakangnya. Langit – langit ruangan itu bermotif catur, membuatku pusing jika terus berlama – lama melihatnya. Aku menghela nafas panjang, hatiku terasa tercabik – cabik dengan semua peristiwa ini. Tenggorokanku kering setelah beberapa jam kemudian tak henti menangis.
Aku berdiri dan memandang langit mendung di luar sana melalui jendela berbingkai kayu di depan ranjang, jendela yang sama ketika malam itu cahaya perak rembulan menembus melalui kacanya yang bening. Selembar kertas yang menyembul di pintu lemari   pakaian menarik perhatianku dari awan – awan hitam yang mulai menyelimuti langit. Kutarik perlahan kertas itu agar tidak terkoyak, dan dari sudut mataku yang bengkak aku dapat melihat kertas yang berisi potret seorang gadis muda berdiri mematung di antara keheningan langit senja. Bahkan meskipun foto itu diambil dari samping, aku tak bisa membohongi otakku untuk tidak mengingat suasana sore dingin di foto yang ku genggam. Aku sangat mengenalnya, celana capri itu, t-shirt oversized biru tua, dan pagar kayu rendah di dalam potret itu juga yang membuat suara dentuman jantungku terdengar menggema di kamar Toddy yang sunyi.
Dan betapa hatiku mencelos ketika ujung – ujung jariku merasakan timbulan huruf – huruf yang terukir di balik foto itu. Ditulis dengan tinta hitam tebal dengan huruf tegak bersambung yang rapi.
“I may seem to hate you. But really I’m so in love with you, Darl”
Hatiku kembali nyeri saat aku mulai mengerti maksud dari kata – kata itu. Perlahan kubuka pintu lemari kayu hitam di depanku setelah beberapa saat ku pandangi dari atas ke bawah dengan penasaran. Debu – debu berhamburan ketika gagang tebal lemari itu ku hentakkan hingga kedua pintunya terbuka lebar. Tak kuasa menahan rasa takjub yang menyerang tiba – tiba, ku paksakan mataku yang pedih karena debu agar tak berkedip. Tepat dihadapanku, puluhan bahkan mungkin ratusan lembar foto dengan berbagai ukuran di tempel memenuhi tiap sisi bagian dalam lemari. Kutelusuri satu persatu rentetan foto itu dari sudut ke sudut, sementara kepalaku masih terus dijejali pertanyaan – pertanyaan tak menentu.
Mendadak aku dikejutkan lagi dengan salah satu foto yang berada tepat di tengah – tengah dari sekian banyak foto. Foto itu memang masih fotoku, berkali – kali aku melihatnya hingga melepas dari tempatnya ditempel, memastikan mataku masih bekerja dengan baik. Foto itu diambil dari samping, aku berdiri melipat tangan di dada di sebelah bangku kayu dekat restoran cepat saji. Ya, malam itu ! Tapi ini tidak mungkin, Toddy sudah meninggal, dia tidak bisa melakukan ini. Semua ini semakin menakutkan, ku lempar foto itu jauh – jauh dan terjatuh di sudut ruangan kamar.
Ku gerakkan kakiku yang kaku secepat mungkin keluar dari kamar Toddy. Rumah ini masih sepi, Bibi May dan Paman Ben belum kembali. Dari kaca jendela ruang depan, aku melihat banyak mobil polisi dan sebuah ambulans di depan rumahku. Lalu dua orang yang keluar dari pagar sambil menggotong kantung mayat berwarna kuning dan memasukkannya ke dalam mobil ambulans. Dua orang muncul lagi membawa satu kantung kuning yang sama.
Aku berlari keluar dengan kencang, meninggalkan pintu rumah Bibi may terbuka lebar. Dengan nafas putus – putus ku buka dua kantung mayat yang telah dimasukkan ke dalam ambulans dengan liar. Orang – orang yang tadi berusaha mencegahku seketika bergeming ketika mendengar aku berteriak histeris. Ku tatap bergantian kedua mayat orang tuaku yang pucat, ayahku dengan kepala bocor dibunuh oleh ibuku, dan ibuku sendiri yang bunuh diri dengan membuat lubang di kepalanya dengan bor.
Langit berubah begitu cerah senja ini, kenapa sepertinya mereka bahagia melihatku hancur seperti ini. Orang – orang di sekitarku ku tatap dengan mata nyalang. Bibi May berusaha mendekatiku, namun kudorong dia menjauh hingga tersungkur di jalanan beraspal. Aku ketakutan, seharusnya aku tidak melakukan itu.
Kugigit bibir bawahku hingga berdarah. Paman Ben menjulurkan tangannya untuk menjangkauku, tapi aku justru berlari menjauh. Ku kunci rumah Bibi May dari dalam, aku meringkuk ketakutan di balik pintu.
Aku tidak bisa merasakan apa – apa lagi kecuali rasa sakit hatiku. Darah yang menetes dari bibirku tak lagi ku pedulikan. Perlahan namun pasti ku potong selang tabung gas di dapur. Bau gas yang menyengat menyiksa sistem pernafasanku, sesak. Tak kuhiraukan gedoran keras di pintu depan dan rintihan Bibi May yang menyuruhku membuka kunci pintu. Api segera menyulut segala penjuru ruangan sejenak setelah terdengar ledakan dari tabung gas. Aku terkapar di lantai berlumuran darah, kulihat Bibi May, Paman Ben, Tuan Barley, Joan dan Joanne dari balik pintu kaca di dapur. Bibi May pingsan dipelukan Paman Ben yang tampak linglung. Aku tersenyum dan melambai pada mereka. “Selamat tinggal.” Ucapku lirih, meskipun aku tahu mereka tak mungkin mendengarnya Bisa kurasakan rasa panas dan perih tak terkira yang membakar kulitku. Terakhir aku bisa mencium bau daging terpanggang dan bau amis darah sebelum akhirnya aku benar – benar tak bisa merasakan apa – apa lagi. Semua rasa sakit itu hilang seiring dengan tubuhku yang hancur di lalap api. Lihat, aku bertemu dengan Toddy dan kedua orang tuaku. Dan akhirnya aku memiliki sayap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar