Untuk kesekian kalinya film Gie kuputar untuk hari ini. Film inilah yang memperkenalkanku dengan sosok Soe Hok Gie, seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, juga pendiri Mapala UI. Tanpa film itu, mungkin sampai saat ini nggak bakal pernah tahu siapa itu Gie. Maklum sih, males banget ngubek - ngubek sejarah Indonesia -_- heheh.
17 Desember 1942 di Jakarta, lahir pemuda dengan idealisme tinggi, pecinta alam, kritis, dan berani menentang kemunafikan. Hari ini, 17 Desember 2013 harusnya ulang tahun beliau yang ke 71 tahun. Sayangnya, Soe meninggal di gunung Semeru tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat mengirup gas beracun bersama kawannya, Idhan Lubis.
Dalam catatan hariannya, Soe Hok Gie menuliskan :
"Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati muda."
Dan benar saja, Gie mati muda. Meninggal di usia emasnya , 27 tahun. Gie menuliskan puisi terkhirnya sebelum beliau meninggal dunia :
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
Aada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangngku...
Kalian yang pernah mesra
Yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas
Atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
"Selamat ulang tahun Soe Hok Gie, berbahagialah dalam ketiadaanmu."


Tidak ada komentar:
Posting Komentar