Di
sudut sekolah yang sepi, dua orang remaja terdiam terlarut dalam heningnya suasana.
Angin berhembus, menyejukkan dua hati yang larut dalam perasaannya
masing-masing. “Maaf, aku rasanya memang belum siap untuk pacaran lagi.
Prioritasku saat ini hanya untuk basket.” Jelas Junior sambil menatap lurus ke
seorang gadis yang balik menatapnya tak percaya.
“Tapi aku bisa, aku bisa ngertiin semua
kesibukanmu. Aku nggak pernah terganggu dengan semuanya.” Keduanya masih saling
terdiam. Junior mengedarkan pandangannya ke seluruh sedut sekolah yang semakin
senyap.
Sedangkan Machika, dengan sudut matanya
memandang Junior penuh harap. Junior menghembuskan nafas panjang dan berkata,
“Sudahlah Chi, prioritasku saat ini cuma basket, aku nggak mau menggantung
hubungan yang akhirnya bakal nyakitin kamu.”
Wajah Machika memanas, ditatapnya
langit-langit koridor untuk menghalau air mata yang ingin mendesak keluar. “Aku
pulang.” Lanjut Junior, lalu beranjak pergi meninggalkan Machika yang masih
terdiam. Ditatapnya punggung pacar, yang beberapa menit lalu telah menjadi
mantannya itu dengan nanar. Air mata yang dengan susah payah ditahannya kini
keluar tak terbendung.
Dengan air mata yang semakin mengaburkan
pandangannya, Machika berlari melewati koridor-koridor kelas yang kosong.
Seorang tukang kebun yang kebetulan berpasasan dengan Machika menggeleng-geleng
heran,”dasar anak muda” batinnya, lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan
ruang kelas yang kotor oleh ulah siswa yang berbangga hati membuang sampah di
berbagai sudut kelas, bersuka ria karena
tugas piketnya diambil alih tukang kebun sekolah.
Machika terus berjalan, entah kemana,
hanya mengikuti setiap langkah yang dibuat kaki kecilnya. Saat ini pikirannya
benar-benar kacau, mungkin ini yang disebut dengan galau, sebuah kata yang tak
pernah absen dari topik pembicaraan remaja. Tapi
tunggu, ini bukan galau, ini lebih sakit dari galau, ini sakit, sangat sakit.
Sakit saat orang yang kau sayangi begitu saja meninggalkanmu dengan alasan yang
tak jelas , sakit ketika kau pertama kali diputus, sepihak, dan masa pacaran
belum genap dua minggu, terakhir dan paling miris, sakit ketika kau tahu
ternyata kau tak lebih penting dari sebuah lemparan threepoint, serunya
dalam hati sambil melempar dengan keras tisu yang basah dan tak berdaya itu ke
jalan beraspal.
Aspal keras yang menjadi pijakannya
kini telah berganti menjadi hamparan ilalang tinggi yang membatasi bukit dengan
hiruk pikuk perkotaan. Ya, bukannya pulang, tapi kakinya justru membawanya
semakin jauh dari jalan pulangnya. Machika berjalan menyibak rimbunnya ilalang
menuju ke puncak bukit yang ditumbuhi sebuah pohon ek besar dan
bunga-bunga liar. Sepi. Hanya suara
desir angin dan gemerisik dedaunan kering yang terdengar. Dia diam, berdiri sambil mendekap tubuhnya
sendiri untuk menghalau angin yang berhembus kencang menantangnya.
“Juniiooor. . .” teriak Machika keras
sambil menyeka wajahnya yang basah karena air mata.
“Apa sih ? aku denger kok, nggak usah
teriak-teriak gitu lagi !” suara itu menyahut teriakan Machika. Machika menoleh
ke segala arah, mencari si pemilik suara. Lalu dari balik pohon muncul
seseorang, dia menatap Machika sambil memiringkan kepalanya.
Machika yang baru saja tersadar dari
kekagetannya oleh kemunculan cowok itu, segera merespon, “eh, aku panggil
Junior, bukan situ!” suaranya terdengar sinis. Sedangkan cowok di depannya
justru sibuk mengibas-ngibaskan tangan untuk membersihkan celana pendeknya dari
rumput-rumput kering yang menempel. Rambutnya yang dibiarkan agak gondrong
menutupi hampir sebagian wajahnya. Kemudian dia tersenyum dan kembali duduk. “Kalo
mau nangis, nangis aja lagi.” kata cowok itu sambil melirik Machika yang masih
berdiri di tempatnya semula dengan mata merah sambil menahan tangis.
“hhuuwaaaaaaaaa.”
Tangis Machika meledak. Cowok itu
menoleh kaget, “tadi kelihatannya lucu banget, eh ternyata kalau nangis jadinya
ga lucu banget.” Semuanya kembali hening, hanya sesenggukan sisa-sisa tangisan
yang terdengar.
At first I was afraid, I was petrified
I kept thinkin' I could never live without you by my side
But then I spent so many nights just thinking how you’ve done me wrong
And I grew strong, I learned how to get along
Oh not I, I will survive
Yeah, as long as I know how to love, I know I'll be alive.
I've got all my life to live,
I've got all my love to give,
I will survive . . .
I kept thinkin' I could never live without you by my side
But then I spent so many nights just thinking how you’ve done me wrong
And I grew strong, I learned how to get along
Oh not I, I will survive
Yeah, as long as I know how to love, I know I'll be alive.
I've got all my life to live,
I've got all my love to give,
I will survive . . .
Penggalan
lagu I Will Survive dari The Cake mengalun lembut dari bibir cowok itu. Matanya
menerawang jauh, tangannya menepuk-nepuk lutut, membuat ketukan-ketukan untuk
mengiringi nyanyiannya. “Kenapa nangis ? Cowok ya ?” tanya cowok itu setelah
menyelesaikan nyanyiannya sambil tersenyum mengejek Machika.
Machika mengangguk-angguk hebat hingga kuncir
kudanya bergoyang-goyang dengan mata merah dan hidung berair. “eh iya, tadi
kenapa kamu tiba-tiba jawab pas aku manggil Junior ?” kata Machika setelah
berhenti mengangguk-angguk dan mulai menatap cowok itu serius.
“Junior. Nama gue Junior, sama kayak nama
cowok yang lo teriakin sambil nangis tadi.” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya
dan tersenyum manis, salah ! tapi sangat manis sekali. Machika hanya bisa
melongo, antara bingung, kaget, daaaaan terpesona, sedangkan otaknya mulai
mencerna semua perkaaan Junior perlahan.
“Udah ah,
jangan melongo gitu, lo jelek. Intinya nama gue Junior, sama kayak cowok yang
gue yakin udah mutusin lo dan buat lo nangis kayak gini. Iya kan ? pasti iya.
Jadi tadi gue ga salah kan kalo gue jawab panggilan lo. Jadi, nama lo siapa ?”
lanjut Junior panjang lebar, tangannya tetap terulur menunggu Machika sadar
dari kebingungannya, kekagetannya, dan keterpesonaannya. Dengan segera Machika
menutup mulutnya, dan mulai menyambut uluran tangan Junior “aku MJ.”
“Marry Jane ? Berarti lo tadi abis di buat
nangis sama Peter Parker dong ya.” tebak Junior sekenanya.
“bukaannn, MJ
itu Machika Johan bukan Marry Jane.” dia berteriak, memelototkan matanya ke
arah Junior gemas. Junior tertawa, menutup muka dengan kedua tangannya, nyengir
lebar, lalu berujar, “bagus deh, soalnya muka lo lebih mirip Bloody Marry
daripada Marry Jane, nona Machika.” Machika yang dari tadi memperhatikan
tingkahnya hanya bisa mendengus kesal sambil mencabut rumput-rumput malang yang
tak bersalah disampingnya. Sementara itu, Junior yang juga melihat tingkah
Machika tengah tertawa seraya memukul-mukul pohon di belakangnya.
Semburat warna oranye, biru, dan ungu
mulai nampak di atas langit yang beranjak senja. “gue mau pulang, udah sore.” ujar
Junior, lalu mulai mengambil sepedanya yang digeletakkan dibelakang tempatnya
duduk. “loh, kamu bawa sepeda ya ?” tanya Machika kebingungan. “iya dong, lo
sih jalan sambil nangis, ingusan lagi. Ya ga kelihatan sepeda segede gini.”
ejek Junior sambil bersiap menaiki sepedanya. Machika lalu tertawa seraya
mendekati Junior dan berkata, “hihihihi, ayo pulang, udah sore juga, lagian aku
laper.” “eeiittsss, apa lo mau ngedeket gue ? gue mau pulang.” Kata Junior
sambil menghalangi Machika mendekati sepedanya. “Kan aku mau bareng Nyo.”
Machika menaik-naikkan alisnya meyakinkan.
“Nyo ? Apaan ?” Balas Junior bingung
“Nyo itu ya kamu, Junior. Aku harus
panggil apa coba ? Jun ? Itu mah nama tukang kebun sekolahku. Nio kan aneh,
jadi huruf i nya diganti y gitu. Jadinya N-Y-O, Nyo.” Jelas Machika sambil
memonyongkan bibirnya membentuk huruf O.
“Terserah.” Ucap Junior datar, lalu
meluncurkan sepedanya menuruni lereng bukit. Machika menatap sepeda Junior yang
semakin menjauh dan berjalan dengan lunglai menuju ke rumahnya.
***
Dihentak-hentakkan
kedua kakinya untuk menghilangkan rasa bosan, sudah hampir seperempat jam
Machika duduk di halte ini menunggu bus yang tak kunjung datang. Seragam
abu-abu putihnya mulai basah terkena keringat yang tidak berhenti menetes. Dilepasnya
topi abu-abunya dan mulai menggerak-gerakkannya untuk menghalau panas. Bus biru
yang sudah lama dinanti terlihat dari jauh, membuat Machika lega, setidaknya
dia tidak harus menunggu lebih lama di halte membosankan ini, terkadang Machika
berharap suatu saat akan ada TV atau paling tidak majalah yang update setiap minggu yang disediakan untuk
para penunggu setia bus ini.
Bus merapat, segera Machika melompat
masuk melalui pintu belakang bus yang terbuka dan mencari tempat duduk kosong
di sebelah pintu. Seorang berjaket hitam masuk dan duduk di kursi kosong di
samping Machika. Machika meliriknya, berusaha mengenali seseorang yang kini di
sampingnya, namun topi dari jaket yang di pakainya menutupi wajahnya. Sepintas
Machika mengetahui bahwa orang disampingnya adalah seorang cowok SMA dari
celana abu-abu yang di pakainya. Bus mulai meluncur meninggalkan halte tepat
ketika Machika menyerahkan tiga lembar uang seribuan pada kondektur bus
berwajah sangar bak preman terminal itu.
Bus berhenti di halte berikutnya, serombongan
gadis remaja berseragam berjalan ke pintu keluar bus, tiba-tiba seorang gadis
di antara mereka berteriak histeris, “Astagaaa, Juniooorrrr.” Sambil menunjuk
cowok di samping Machika.
“Junior ?” gumam Machika seraya terbelalak dan
memutar badannya menghadap ke orang berjaket hitam yang ternyata adalah Junior.
Wajah Junior langsung pucat pasi, dengan cepat di sambarnya tangan Machika,
berlari menerobos gadis-gadis tadi yang menjadi brutal – menarik-nariknya dan
meloncat keluar dari pintu bus yang terbuka.
“Lepaskan aku !!” bentak Machika. “Kau
mau membawaku kemana Nyo. Kau tahu ?? aku harus membeli barang-barang dalam
daftar ini, lihat ini !!” Kertas daftar belanjaan itu berkibar liar di tangan
kirinya. Hingga akhirnya mereka berhenti berlari ketika sampai sebuah sudut
sepi di depan pertokoan.
“Aku lelah.” Kata Junior terengah seraya duduk
di trotoar, Machika mengikutinya – mengatur nafasnya yang tak karuan.
“Bodoh !!” Teriak Machika gemas, setelah
berhasil menjitak kepala Junior dengan telak. “Kenapa mereka berteriak –
teriak, meneriakinu ! Seakan mereka memujamu. Badge mereka sama denganmu, bukan kah mereka temanmu ? Lalu mengapa
kau harus lari ? Aku tidak peduli kau mau berlari kemana pun, tapi dalam kasus
ini kau menculikku ! Oh itu berlebihan, kau menyeret – nyeretku dengan paksa
!!” Machika terengah – engah menahan emosinya yang memuncak, Junior yang
berpura – pura mengantuk dengan memejamkan matanya dan terkulai di lututnya
semakin membuat Machika berkali - kali menarik nafasnya dalam dalam dan
menghembuskannya – menahan emosi.
“Mereka ? Mereka gadis, sama sepertimu
kan. Bedanya hanya mereka gadis normal yang menggilaiku dan kau tidak.” Kata
Junior, tiba – tiba terbangun dari tidur palsunya dan membanggakan diri seraya
menyunggingkan senyum. “Aku mulai menyukai hidupku sebagai manusia, berkat
mereka.” Lanjut Junior santai.
Tenggorokan Machika terasa tercekat,
ditatapnya Junior seakan bertanya “Apa maksud ‘manusia’ dalam ucapanmu.” Beribu
pertanyaan terlintas di benak Machika, bulir-bulir keringat dingin mulai
membasahi keningnya, masih juga di tatapnya sosok yang beberapa sekon yang lalu
melontarkan sebuah pernyataan gila tentang ke’manusiaan’nya. Otak Machika
berpikir keras, Siapa dia ? Jangan -
jangan dia vampire, dia mendekatiku lalu ketika dia hanya berdua denganku dia
akan mengeluarkan taringnya yang tajam dan runcing, menancapkan taring panjangnya
ke leherku hingga tembus ke pembuluh darahku, menghisap darahku perlahan –
lahan sampai seluruh tubuhku memucat dan aku tidak bisa lagi merasakan darah
mengalir di dalam tubuhku. Tunggu tunggu, atau jangan – jangan dia semacam
alien, lalu beberapa menit lagi dia akan melepas topeng wajah Junior dan
menunjukkan wajahnya yang jelek dan berlendir dengan sepasang mata, telinga,
serta antena tambahan di kepalanya. Kemudian dia akan menyeretku dengan
tangannya yang aneh ke sebuah tempat yang penuh makhluk sekawannya daannnn . .
. . . PLOKKK !!!! HWAAAAA !!! Tangan Junior mendarat mulus di kening
Machika, dan jeritan itu menandakan telah kembalinya otak thriller Machika ke dunia nyata.
“Aku mengerti apa yang kau pikirkan,
Junior itu vampire, Junior itu alien jelek. Otakmu liar sekali nona, cobalah
berhenti mengonsumsi tayangan – tayangan horor mistis semacam itu.” Celetuk
Junior, memandang Machika dengan tatapan tajam, namun meneduhkan.
Machika menatap ke atas, mencoba
menghindar dari tatapan mata Junior, “Siapa sebenarnya kau ?” tanyanya.
“Aku ? Aku Junior, kau masih ingat kan
kemarin kau menangis dan aku menyanyi untukmu di bukit itu.” Junior menaik
turunkan alisnya dengan cepat.
“Yaaaaa, dan kau meninggalkanku
sendirian.” Raut muka Machika seketika berubah menjadi aneh, matanya menyipit
menatap Junior, mengingat kejadian di bukit sore itu.
“Sudahlah, jangan menatapku seperti
itu. Kau masih ingin tahu aku ini siapa ? Atau lebih tepatnya, apa ?” Junior
menyeringai lebar ke arah Machika yang bergidik ngeri. “Baiklah, aku akan
menjelaskan, dan kau harus percaya. Sekali lagi, kau harus percaya. Ada
perbedaan di antara kita, selain gender dan umur. Yaitu gen, aku tidak memiliki
sejumput gen manusia di dalam diriku. Karena itu, aku bukanlah manusia sepertimu.”
Junior melirik Machika, segera Machika mengangguk – angguk cepat sambil memberi
isyarat untuk melanjutkan ceritanya, “Bukit itu, tempat pertamaku menginjakkan
kaki di duniamu.” Lanjutnya menerawang.
Machika masih mengangguk – angguk,
“Semua penjelasanmu belum bisa menjawab satu pertanyaanku. Kau ini siapa ?
Maksudku, kau ini apa ? Aku benar – benar tidak bisa merealisasikan kau ini
makhluk apa.” Gumam Machika.
“Aku penabur cahaya. Kau mengerti ?”
Jelas Junior singkat, namun tidak jelas, yang semakin membuat Machika tidak
dapat berhenti menaut – nautkan alisnya bingung. “Oke, kau tak perlu menjawab,
ekspresimu cukup membuktikan bahwa kau sama sekali tak mengerti.” Machika
nyengir, merasa senang bahwa dia tak harus banyak bicara dalam hal ini. “Aku
yang memberi cahaya pada bintang, bukan, aku bukan Tuhan. Dia yang
menciptakanku, menciptakanmu, dan menciptakan bintang. Jangan pikir aku memberi
cahaya pada semua bintang, bodoh !!” Tukas Junior.
“Heeeeiii, aku memang memikirkan itu.
Aku belum menanyakannya padamu, kenapa kau bisa tahu ! Berhenti membaca
pikiranku.” Sergah Machika seraya menunjuk – nunjuk heboh ke arah Junior.
“Hehe, maaf.” Junior tersenyum masam
sambil berusaha menurunkan tangan Machika yang masih menunjuknya. “Aku
lanjutkan, hanya satu bintang untuk setiap penabur cahaya. Jadi kau bisa
bayangkan berapa banyak makhluk sepertiku. Aku memberi cahaya pada bintang
Pegasus, bintang di langit utara pada sudut 60 derajat. Bintang Pegasus
bersebelahan dengan bintang Andromeda.” Lanjut Junior, menunjuk – nujuk ke satu
penjuru langit siang yang tentu saja tak berbintang.
“Lalu bagaimana kau bisa di sini ? Kau
jatuh dari langit” tanya Machika lugu.
“Tidak tidak, kau kira aku pemula.
Sejujurnya lebih parah dari itu, ini memalukan, sangat memalukan. Aku tertipu
oleh, oleehhhh, kau tahu benda plastik berbentuk bintang yang bisa menyala di
kegelapan. Malam itu aku melihatnya di duniamu, terjatuh di antara rumput –
rumput di atas bukit itu. Semula ku kira itu sebuah bintang jatuh yang
kehilangan cahayanya. Naluri ku muncul, awalnya aku hanya ingin memberi sedikit
cahaya Pegasus padanya. Tapi aku terlalu jauh dan tak bisa kembali.” Wajahnya
nampak muram, sementara di sampingnya, Machika membungkam mulutnya dengan mata
berair, berusaha menahan tawa agar tak terlalu terlihat tertawa di atas
penderitaan si penabur bintang yang tak bisa pulang -- tertipu oleh bintang glow in the dark. Menyedihkan.
Machika berdeham agar Junior tidak
menyadari tawanya, “Lalu bagaimana dengan Pegasus ? Dia tak lagi bercahaya
tanpamu ?” Tanyanya berusaha bersimpati pada Junior yang masih menunduk.
“Kau benar, dia tak lagi bercahaya
tanpaku.” Jawab Junior lirih dengan mimik muka sedih.
“Ehemm, apa yang bisa membuatmu kembali
?” Machika semakin merasa canggung dengan sikap Junior.
“Kau serius ingin membantuku ? Kau
baik sekali MJ.” Junior terperangah, namun wajahnya terlihat senang. “Ayo!”
Ditariknya kembali tangan Machika dan menyeret Machika di belakangnya sementara
dia berlari seraya tersenyum bahagia. Sementara itu, Machika dengan ekspresi
datar mengikuti kemana saja Junior menyeret tangannya dengan pasrah. “Kau tahu
salah satu gadis berpita di antara gadis – gadis yang mengejarku tadi ?” Tanya
Junior bersemangat.
“Heehhemmm.” Ujar Machika, masih saja
dengan ekpresi datar.
Junior menoleh Machika sambil tetap
terus berlari, “Dia yang mengajariku berbicara elo gue. Aku mencoba
mempraktekannya padamu, namun aku tidak nyaman.” Lalu dia nyengir lebar dan
terus berlari hingga menemukan bus yang akan membawa mereka pulang.
***
Disanalah Machika, tempat pertamanya
bertemu si penabur bintang dan menangis padanya. Bersandar di bawah pohon
rindang diatas rumput – rumput hijau yang menutupi puncak bukit. Matanya
menatap ke segala arah, sekejap menyipit untuk melihat lautan lembayung di
langit berselimut angin sore yang kering.
Stoples bening itu berisi penuh
bintang kecil dari kertas yang tak terhitung jumlahnya. Disertai serbuk halus
berkelap - kelip menyerupai pasir yang berwarna terang. Digenggam erat oleh si
penabur cahaya itu.
“ Aku sudah menunggu hari ini, ini
satu – satunya kesempatanku untuk kembali. Aku hanya bisa kembali pada hari
dimana bintang Pegasus akan menjadi bintang paling terang, dan itu hari ini.
Waktu paling terang Pegasus hanya ada di hari ini pada 11:50 p.m. ” Ucap Junior
lirih seraya menatap Machika.
Langit berubah semakin gelap, lautan
lembayung itu kini berubah menjadi lautan hitam dan satu persatu mulai muncul
kerlipan – kerlipan kecil di atasnya. Seekor kunang – kunang kecil hinggap di
stoples berisi bintang itu, “Kau tahu MJ ? Aku selalu menyukai tempat ini di
malam hari. Aku suka hewan ini, kunang – kunang. Dia memiliki cahaya untuk
dirinya sendiri. Aku merasa seperti dia, namun aku tidak bisa menggunakan
cahayaku sendiri.” Kata junior sambil meletakkan kunang –kunang itu di jari
telunjuknya. “Tunggu sebentar lagi.” Lanjutnya.
Dengan tiba – tiba ribuan kunang –
kunang dengan cahaya kecil ditubuhnya mulai memenuhi tempat itu, mereka
beterbangan tak tentu arah dan sebagian hinggap di rumput dan daun – daun.
Machika tertawa, Junior mengikutinya. Lalu semuanya kembali hening, hanya suara
kepak kecil dari sayap kunang – kunang yang terdengar.
“Jadi setelah ini aku tidak akan bisa
bertemu denganmu lagi ?” Tanya Machika memecah kesunyian.
“Entah, tapi ku rasa memang itu
resikonya. Ini untukmu.” Jawab Junior seraya menyodorkan stoples bening itu.
“Aku membuatnya untukmu, bawa benda itu kesini tepat pada 11:50 p.m. dan
taburkan sedikit serbuk itu, maka kau akan mengingatku MJ. Terimakasih aku
telah mengenalmu, salah satu hal terbaik selain di kejar oleh gadis – gadis
itu.” Kata Junior tulus.
“Heey, aku ingin menangis Junior.”
Ucap Machika seraya menyeka air matanya yang mulai menetes.
“Kau selalu menangis tiap kali kita
disini MJ. Oh ya, apa kau telah melupakan Peter Parkermu itu ?” Tanya Junior
iseng.
“Tentu saja, berkat kau bodoh.”
Machika tertawa lepas.
Malam semakin menunjukkan dirinya,
angin malam yang dingin berhembus kencang menantang. Machika melirik jam di tangannya
yang terus berdetak. 11:40. Sepuluh menit lagi sebelum dia harus berpisah
dengan Junior untuk selamanya, mungkin, siapa tahu.
“Sepuluh menit lagi Junior, bersiap –
siaplah. Aku tak mengerti apa yang harus kau lakukan.” Machika mulai gelisah.
Junior bangkit dari duduknya, berdiri
membelakangi Machika. Machika mengecek kembali jam tangannya. 5 ... 4 ... 3 ...
2 ... 1 Sekarang !!! Sepasang sayap perlahan – lahan mulai keluar melalui
punggung Junior. Sangat perlahan, Machika mencoba memperjelas penglihatannya.
Namun semuanya semakin tidak jelas. Cahaya sangat terang menyelimuti tubuh
Junior. Dan BLAAR !! cahaya itu menghilang, begitu pula Junior.
“Kau harus memberi tahu ku sekali lagi
dimana letak Pegasus Nyo !!!” Teriak Machika berharap Junior akan mendengarnya.
Machika kini sendiri, hanya dengan
titik – titik cahaya kunang – kunang yang menemaninya. Entah mengapa Machika
tiba – tiba menangis. Karena Junior ?? Mungkin saja.
Sejak hari itu, seakan membuktikan
perkataan Junior, Machika selalu disana dengan jam yang sama. 11:50 p.m.
Menatap langit, menaburkan serbuk berkelip yang semakin habis karena hampir
setiap hari dia melakukan hal itu disana. Lalu mulai berbaring di bawah pohon itu
sambil menatap jauh ke atas sana. Dia berharap Junior datang ? Entah. Namun
pada kenyataannya Junior tak akan pernah kembali, sekeras apa pun dia mencoba.
Dan di hari terakhir dia memiliki
serbuk itu, dia menemukan sesuatu yang menjawab pertanyaannya. Bintang Pegasus.
Seperti kata Junior, 60 derajat di langit utara.
Perbedaan Pegasus dengan bintang – bintang
lain ? Hanya Machika yang tahu itu. Temui dan tanyakan padanya. Atau coba saja
keluar di 11:50 p.m dan taburkan serbuk itu. Ingat 11:50 p.m. Siapa tahu ?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar